THE BIG “WHY” OF NEUROSEMANTICS

Written by L. Michael Hall, Ph.D Posted in L. Michael Hall, Ph.D. on Monday, 10 July 2017.

Written by:  L. Michael Hall
2017 Neurons #26
June 12, 2017 

In preparing for my next project I recently reread Simon Sinek’s Start with Why: How Great Leaders Inspire Everyone to Take Action, 2009. While it is a business book and a book on leadership, more than that it is a book that fits with what we do in Neuro-Semantics about intentionality. Using the “why is that important” question, and holding each answer and then asking it repeatedly, we move a person to find or to create his or her big why. Doing that simultaneously enables a person to discover and activate one’s highest values.

Today our why in Neuro-Semantics is not only that people can change, but that as people change so do families, and as individuals and families change, businesses also transform, and with those changes, the world itself is made a better place.

In the book, Start with Why, Sinek compares three questions to the three functions in an organization. Taking why, how, and what, he argues that the “why” question functions as the CEO of a company, the “how” question is the domain for the executive managers, and the “what” question is how a company manifests its purpose or why. He calls this the Golden Circle and draws three concentric circles putting why in the middle, then how, then what. He then writes:

“It starts with clarity. You have to know why you do what you do.” (p. 65)
“Knowing why is essential for lasting success...” (p. 47)

What is our why? Do you know?

Neuro-Semantics began with a significant and a big why. Today you will find it in our Vision and Mission statement. Do you know that statement by heart? Do you know how the why has developed and evolved over the years?

What was the why when we began Neuro-Semantics in 1994?

 

Pemimpin vs Pimpinan

Written by Mariani Ng Posted in Mariani Ng on Wednesday, 12 April 2017.

Ada banyak pimpinan di dunia kerja kita, namun ternyata tidak banyak yg memimpin.

 

Pimpinan adalah soal jabatan, yg kebanyakan diperoleh karena prestasi tertentu, kompetensi dan ketrampilan atas hal-hal teknis di lapangan. Bahkan ada yg dikarenakan punya kompetensi interpersonal yg tinggi, alias pintar bicara (diplomasi) dan pencitraan, yg kemudian kelak lebih menjadi pimpinan yg populer tapi tidak bisa memimpin.

 

Di sisi lain ada juga pimpinan yg mendapatkan jabatan karena masa jabatan yg secara otomatis perlu dipromosikan sesuai sistem. Tapi kenyataannya, mereka akan sibuk mengamankan jabatan tersebut agar bertahan, tahu bahwa sebenarnya tidak banyak yg bisa mereka lakukan untuk mencapai jabatan ini. Nothing.

 

 

Can People Live With No Title?

Written by Mariani Ng Posted in Mariani Ng on Monday, 27 March 2017.

Ini pertanyaan serius, I mean it.

 

Bukan title akademis saja, tapi juga title masyarakat.

 

Berkali-kali dalam pelatihan, saya dibisiki bahwa ada si A dan si B jadi peserta di kelas saya, lengkap dengan profesi, jabatan atau gelar social masyarakat yang mengiringi nama besar si A dan B tadi. Atau ketika suatu perusahaan mengundang saya untuk fasilitasi coaching beberapa eksekutif di perusahaan, perkenalan selalu diawali dengan ini si A, CEO kami – atau B, pemilik usaha ABC .. bla bla bla ..

 

Apakah itu penting?

 

Penting bilamana gelar atau title tersebut diperlukan dalam aktivitas berikutnya. Penting bilamana itu menjelaskan latar belakang pemikiran dan keputusan yang diambil. But, most of the time, saya tidak memerlukannya. Karena yang saya ajak ngobrol adalah orang yang bersangkutan, bukan gelar atau jabatan atau posisi apalagi title akademis yang bersangkutan. Bahkan, terkadang embel2 gelar tersebut malah membentuk persepsi dalam diri sebelum mulai komunikasi. Oh dia CFO (Chief Financial Officer), siap2 saja kalau orangnya detil dan tertutup. Oh dia orang bisnis, pasti pinter ngomong. And so on, and so on … akhirnya yang muncul malah persepsi versus persepsi. Kapan jadinya komunikasi intens from heart to heart? As a person to a person?

 

Saya bergerak di bidang pengembangan manusia. Dan sejak awal, saya jarang mengenal apalagi mengingat who he/she is atau jabatan tinggi di perusahaan. I never care. Mungkin ini kelemahan saya, but also sekaligus kekuatan saya. Dalam banyak hal, jabatan dan gelar2 tersebut justru membuat orang yang bersangkutan menjadi ‘terpenjara’ dalam jabatan dan gelar2 tersebut. Jaim, tidak bebas bicara. Dan sebenarnya, mereka juga rindu untuk bergaul dan komunikasi biasa, bercanda, iseng dan jahil. Tidak heran ada yang bilang bahwa semakin tinggi jabatan semakin kesepian orang tersebut. Indeed, karena mereka seakan dianggap special (kalau tidak mau dibilang ‘terkucilkan’) karena memiliki jabatan atau gelar2 itu. Semua itu diperoleh bisa jadi karena prestasi, bisa jadi juga karena usaha keras yang telah dilakukan, atau karena status social ekonomi, garis keturunan. Still, mereka juga manusia.

 

Sementara, di sisi lain – ada yang malah sengaja melekatkan jabatan dan gelar ini sekuat mungkin menempel ke dirinya. Gelar2 telah menjadi identitas diri, bagian dari diri yang tidak terlepaskan, atau tidak boleh dilepaskan. Bila ini adalah identitas yang sengaja dilekatkan, lalu mana identitas diri yang sebenarnya, the real me?

 

Di NLP, kita mengenal NEURO LOGICAL LEVELS dimana ada level identitas di dalamnya. Neuro logical level ini digambarkan sebagai segitiga dengan 6 level. Semakin tinggi level maka semakin kuat kendalinya.

Why METAMIND?  read