Training Schedule
Maret - Mei 2012 Jakarta 14 hari
Accessing Personal Genius
(Coaching Genius)
09-11 Maret 2012
Jakarta - 3 hari
Translate
Articles
The Courage to be Free
If you want to become whole, let yourself be partial.
If you want to become straight, let yourself be crooked.
If you want to become full, let yourself be empty.
If you want to be reborn, let yourself die.
If you want to be given everything, give everything up.
-Tao Te ching #22, Lau Tzu–
The courage to be free ?
Judul ini kudapat dari salah satu newsletter, menarik.
Butuh keberanian untuk bebas?
Butuh keteguhan hati untuk bebas?
Benarkah demikian?
Bebas memiliki banyak arti, dari berbagai sudut pandang. Di sini, saya ingin
melihat dari sudut pandang sikap dan pikiran kita.
Apakah kita sudah bebas?
Sederhana, lihat saja pada sikap kita sehari-hari.
Apakah kita sudah bebas dari kata 'menyesal' dalam diri ini?
Apakah kita sering merasa terjerat dalam sikap dan perilaku yang tidak kita
inginkan, tapi kita lakukan juga?
Apakah kita bebas berpikir apa saja, melakukan apa saja, tanpa terjerat oleh
perasaan? Tanpa terjerat oleh kecerdasan diri sendiri?
Kita sering terjerat oleh logika dan berusaha me-logika-kan semua hal. Apalagi
ketika berada dalam satu titik yang disebut logika intelektual. Terlalu tahu ..
jadi sok tahu.
Sering pula terjerat oleh keinginan untuk baik dan sempurna, balance. Dan dalam
rangka mencapai balance itu, ada satu proses yang namanya imbalance. Ibarat
pendulum, akan bergoyang kiri kanan hingga mencapai titik seimbang. Demikian
juga dalam kehidupan, gonjang ganjing terbawa ombak rintangan dan tantangan.
Saat itu terjadi, kita malah sibuk berpegangan atau memilih diam, menghindari
keadaan yang tidak menyenangkan ini. Akhirnya, kita tidak pernah mencapai
keseimbangan itu – balance yang kita inginkan.
Lebih sering lagi, kita terjerat dalam emosional yang membuat setiap kejadian
terlihat penuh drama yang mengharu biru. Lalu asyik menyalahkan emosi yang
seharusnya tidak muncul, atau menanyakan kenapa itu muncul.
Ujung kata, kita hanya sibuk mencari dan mencari, tanpa tahu mau kemana. Tanpa
tahu apa yang kita cari.
Sebagaimana kutipan di atas, 'If you want to become whole, let yourself be
partial'.
Beranikah?
Salam,
Mariani
Rewards & Punishment
Reinforcement Theory
Dalam psikologi perilaku – kita mengenal reinforcement theory. Teori yang
memperkenalkan tentang pentingnya rewards (penghargaan) dan punishment (hukuman)
sebagai konsekuensi atas setiap perilaku.
3 prinsip utama dari konsekuensi ini adalah :
- Konsekuensi bahwa penghargaan (rewards) akan menambah perilaku.
- Konsekuensi bahwa punishment (hukuman) akan mengurangi perilaku.
- konsekuensi bahwa tidak ada rewards atau punishment akan menghentikan perilaku.
Contoh yang paling sederhana:
- Ikan lumba2 akan diberi hadiah makanan bila melompat tinggi sesuai dengan
harapan pelatihnya. Selanjutnya lumba2 akan senantiasa melompat sesuai harapan
pelatihnya agar dapat hadiah lagi.
- Bila seorang anak dihadiahi ucapan `pintar' setelah menyanyi, maka si anak
akan sering menyanyi agar kembali dibilang pintar.
- Bonus bagi karyawan perusahaan yang mampu mencapai target.
- Potong gaji bila terlambat masuk kerja.
Apakah rewards dan punishment selalu berupa materi?
Tentu tidak, walau sering diartikan demikian.
Rewards disamakan dengan hadiah materi, dimana seseorang baru merasa dihargai
ketika diberi hadiah, bahkan sampai pada perhitungan berapa harga uang atas
hadiah yang diberikan. Kenyataannya, hadiah yang mahal belum tentu mencerminkan
penghargaan yang tulus dari hati. Ironisnya, adakalanya ketika seseorang
terbiasa diberi rewards – maka prestasi hanya dilakukan atas dasar rewards
tersebut. Tidak ada rewards maka tidak perform. Di sisi lain, jangan kaget pula
ada orang yang justru tidak perform karena diberi (tangible) rewards. Saya
pernah bertemu dengan orang yang demikian. Awalnya adalah rasa gengsi. `Masak
saya dikira uber materi, memangnya saya apaan', demikian jawab orang tersebut
ketika saya tanya alasan di balik low-performance nya. Saya manggut-manggut
heran. Penasaran, saya terus elaborasi, hingga akhirnya menemukan bahwa bukan
gengsi yang membuat dia tidak perform, tapi karena takut gagal. Takut diberi
target untuk mendapatkan rewards itu lagi, takut gagal untuk mengulangi
prestasinya kembali.
Ada hadiah yang non-materi, rewards yang tak terukur, yakni penghargaan.
Tentunya kita sudah sering mendengar kata `harga menghargai', `apresiasi'. Ada
juga rewards yang lain, rewards pada diri sendiri – relax, jalan2, liburan –
adalah beberapa contoh memberikan rewards atas apa yang telah kita capai.
Apa efeknya terhadap pengembangan diri seseorang?
Bisa menimbulkan ketergantungan pada rewards dan punishment tersebut.
Rewards diperlukan untuk memacu prestasi seseorang, demikian juga punishment,
seiring dengan gaya berpikir (meta program) seseorang yang cendrung focus pada
apa yang ingin dicapai (towards) atau focus pada apa yang perlu dihindari (away
from). Bagi yang cendrung `towards', rewards-lah pemicu prestasinya. Punishment
cocok buat mereka yang cendrung `away from'.
Sayangnya, baik rewards maupun punishment selalu besifat eksternal. Dengan kata
lain, ketika tidak ada lagi pihak eksternal yang (mampu) memberikan
reinforcement tersebut – bagaimana dengan performance yang bersangkutan?
Bagi perusahaan, reinforcement hendaknya senantiasa diberlakukan, terutama bagi
mereka yang berada di level operasional. Semakin tinggi jenjang managerial,
biasanya semakin tinggi pula kesadaran akan aktualisasi diri. Hal ini berarti,
rewards non materi jauh lebih penting, tanpa mengesampingkan rewards berupa
materi, tentunya.
Bagaimana dengan diri kita sendiri dalam manajemen diri sendiri?
Apakah kita berada di level operasional (baca: tergantung pada pihak lain,
menjadi operator dari keadaaan lingkungan)?
Atau level manajerial (baca: mampu memanajemen diri sendiri)?
Apakah kita senantiasa bisa memberi rewards pada diri sendiri?
Atau cendrung focus pada punishment (menyalahkan diri sendiri)?
Hati2, karena baik rewards maupun punishment, selalu akan berbahaya bila
diberikan berlebihan.
Selamat merenungi …
Salam,
Mariani
The courage to be free
July, 2011
By Mariani Ng
Butuh keberanian untuk bebas?
Butuh keteguhan hati untuk bebas?
Benarkah demikian?
Bebas memiliki banyak arti, dari berbagai sudut pandang. Di sini, saya ingin
melihat dari sudut pandang sikap dan pikiran kita.
Apakah kita sudah bebas?
Tanggapan Positif
Oct, 2010
By Mariani Ng
’Tanpa sadar, sering kita memberikan penilaian negative terhadap pikiran, sikap, atau tindakan orang yang kita sayangi. Seolah-olah tidak ada yang benar dari dirinya dan kebenaran mutlak hanya pada kita.
Kali ini, coba hadiahkan tanggapan positif. Nyatakan dengan jelas dan
tulus.
Cobalah ingat, berapa kali dalam seminggu terakhir anda mengucapkan terima kasih atas segala hal yang dilakukannya demi Anda.
Ingat-ingat pula, pernahkah memujinya.
Kedua hal itu, ucapan terima kasih dan pujian (dan juga permintaan maaf) adalah kado indah yang sering terlupakan’.
Kebebasan
August, 2010
By Mariani Ng
’Mencintai seseorang bukan berarti memberi kita hak penuh untuk memiliki atau mengatur kehidupan orang bersangkutan.
Bisakah kita mengaku mencintai seseorang jika kita selalu mengekangnya ?
Memberi kebebasan adalah salah satu perwujudan cinta.
Makna kebebasan bukanlah "Kau bebas berbuat semaumu".
Lebih dalam dari itu, memberi kebebasan adalah memberinya kepercayaan
penuh untuk bertanggung jawab atas segala hal yang ia putuskan atau lakukan’.