Articles tagged with: emosi

STRESS, perlu IJIN-kah?

Written by Mariani Ng Posted in Mariani Ng on Monday, 28 January 2019.

"Emangnya stress perlu ijin?", seru si bungsu mendadak di dalam kamar. Kami tertawa gelak. Kala itu kami sedang liburan di Bali, ngobrol santai dalam kamar dan mendadak dia bilang sedang stress. Mendadak sontak kami langsung tanya 'stress apa, dek?', seakan dia si bungsu yang masih kecil usia dan tidak bisa stress. Merasa 'diserbu' pertanyaan-pertanyaan kami, dia langsung jawab 'emangnya stress perlu ijin?'.

Dalam hati saya tertawa, betul juga, emang stress perlu ijin? Sementara banyak orang serta merta merasakan stress tanpa tahu ujung pangkal, ada pula yang merasa stress sebagai korban dari suatu keadaan dan seakan menjadi tak berdaya. Ada juga yang stress karena tidak bisa melakukan sesuatu atau ada tujuan yang tak tercapai. Stress muncul akibat perasaan tidak berdaya. Dan saya berpikir ulang, mencari... pernahkah stress muncul karena perasaan sedang/sangat berdaya?

Andai saja perlu ada ijin untuk stress, kemudian boleh memilih agar stress-nya cukup di pikiran saja, tidak dirasakan..
Atau ijin stress diberikan sesuai dengan waktunya. Saat kapan boleh stress dan saat kapan tidak boleh karena bukan pada waktu yg tepat...

Seandainya saja stress perlu ijin, akan kita ijinkan atau tidak?

Relax, everything is out of control.

Written by Mariani Ng Posted in Mariani Ng on Monday, 19 September 2016.

Relax, everything is out of control.

Kalimat ini bukan karangan saya, tapi dikutip dari salah satu judul topik Ajahn Brahm yang bisa kita temukan di youtube. Kalimat ini menarik buat saya, karena biasanya justru kita baru relax setelah everything is under-control. Segala sesuatu harus berjalan sebagaimana mestinya, segala sesuatu harus sesuai rencana, segala sesuatu harus sesuai apa yang telah diatur.

 

Benar bahwa kita perlu memastikan segala sesuatu berjalan dengan baik, sesuai rencana. Namun adakalanya jadi berlebihan hingga muncul rasa cemas dan waswas bahkan sejak suatu proses dimulai. Gelas yang ditaruh miring sedikit saja diprotes. Sepatu ditaruh tidak sejajar saja dikomentari. Kita harus pastikan berjalan dengan baik, mengatur dari hulu hingga hilir, mengontrol setiap detil  sehingga tidak memberikan peluang bagi orang lain untuk ikut terlibat secara bebas. Lalu ketika ada sedikit saja yang tidak sesuai, emosi mulai mencuat. Alhasil orang-orang di sekitar jadi waswas alias takut untuk terlibat lebih jauh tanpa sepengetahuan dan persetujuan kita. Tidak ada kreativitas, tidak boleh ada inisiatif sendiri, pokoknya ikuti saja prosedur (baca: perintah) yang ada agar tidak disalahkan nantinya. Everything is under-control. Apakah ini yang kita inginkan?

Emosi? Bukan Masalah.

Written by Mariani Ng Posted in Mariani Ng on Tuesday, 26 July 2016.

Emosi? Bukan Masalah.

Beberapa tahun lalu saya pernah tulis tentang 'Well-Formed Problem'. Istilah ini muncul sebagai antagonis dari 'Well-Formed Outcome' yang dipelajari di NLP Practitioner untuk perencanaan target alias goal setting.

Sore ini mendadak terlintas istilah tersebut dan serta merta jari ini langsung 'menari' di atas HP-ku sambil duduk di cafe. Pikiranku melanglang ke saat-saat sertifikasi GTMC (Group & Team Meta Coach) oleh Michael Hall di Jakarta akhir Feb 2016 lalu. 

'Emotion is never the problem. It is just the symptom' ..itu ucapannya beberapa kali baik di kelas maupun saat santai 'nge-wine' malam hari sambil bahas beberapa keadaan. Emosi merupakan gejala, bukan masalah. 

Why METAMIND?  read