Our Articles

Articles tagged with: coaching

When Things Get Difficult

Written by L. Michael Hall, Ph.D Posted in L. Michael Hall, Ph.D. on Thursday, 05 October 2017.

From: L. Michael Hall

2017 Morpheus Reflections #42

October 4, 2017

 

Things can, and do, often become difficult.  Surely you know that and have had that experience. So let’s explore that.   First, what does that mean?  It could mean a number of things.

  1. It could mean that you are going to have to put forth more effort and energy into what you’re doing if you are going to succeed.  The difficulty is the effort that you have to expend and if you are already tired, demotivated, or lacking vitality, then the sense of difficulty increases.  In this case, the problem that’s “difficult” is your basic energy level and sense of vitality.
  2. It could mean that you are going to have to do some things that you do not want to do.  You have done what’s easy or fun, now comes the difficult part— getting yourself to engage in those actions that you do not like doing, do not want to do, do not enjoy doing.  Perhaps you feel “uncomfortable,” perhaps it feels like too much of a stretch.  In this case, the problem that’s “difficult” is mostly your attitude.
  3. It could mean that you are doing to have to do things that you find definitely distasteful or even abhorrent.  It’s not that you don’t have the energy or don’t want to do it, you hate the very idea of doing them!  In this case, the problem that’s “difficult” is your semantic reaction to the activity or activities that you are required to do.

 

Here we have a subjective human experience, one that we are calling— when things get difficult.   When that happens to you (or to one of your coaching clients), what do you do?  How do you typically and generally respond when things get difficult?  How does your client typically respond?  We all have our basic response patterns, do you know yours?  Do you like yours?  Would you like to update yours and develop a more mature, more robust, more effective and productive response pattern?  What about one of your clients— if that’s what they want, do you know how to coach it?

 

Elephant in The Room

Written by Mariani Ng Posted in Mariani Ng on Monday, 18 September 2017.

Kita berdua sama-sama tahu. Hal kecil. Dan kita berdua sama-sama mengabaikannya. Berharap hal tersebut segera berlalu. Namun kemudian rekan kerja di ruang sebelahpun mengetahuinya. Ah, hal buruk cepat tersebarnya. Sekarang sudah ada 3 orang yang tahu, setidaknya salah satu dari kita perlu memberitahu Pak Direktur tentang hal ini sebelum membesar. 

 

Awalnya saya berpikir bahwa kamu yang akan memberitahu beliau. Namun ternyata kamupun mengira salah satu dari kita bertiga yang akan beritahu. Demikian juga dengan rekan kerja ruang sebelah tersebut. Dia mengira kita berdua yang tahu duluan, jadi itu tanggung jawab kita berdua untuk memberitahu Pak Direktur.

 

Alhasil, saat ini seluruh manager sudah tahu. Dan lucunya, kita semua duduk dalam ruang meeting yang sama beberapa kali tapi tidak ada satupun yang mau mengungkitnya. Ada perasaan takut di dalam, apa yang terjadi bila Pak Direktur diberitahu sekarang, setelah terjadi sekian minggu. Dan setiap kali saya lirik kamu, dan rekan manager yang lain, semua hanya diam sambil mengisyaratkan agar salah satu dari kita mengungkit hal tersebut di forum meeting.

 

Ruang meeting pagi tadi terasa hangat dan tidak nyaman walau saya sudah cek remote AC beberapa kali, suhu udara masih tetap sama seperti biasa. Tapi kali ini keadaan tidak seperti biasanya. Pak Direktur mulai menyinggung permasalahan yang kita semua sama-sama sudah ketahui ada masalah sejak beberapa waktu lalu. 

 

Saya lihat manager di sebrang mejaku terus menunduk menulis entah apa di meja. Manajer di sebelahnya melirik kami satu per satu seakan mencari tahu di wajah kami padahal dia salah satu yang paling terlibat dan tahu tentang keadaan permasalahan tersebut. Dan kamu-pun melirik saya sambil tersenyum kecil .. 

 

 

 

Coaching and I

on Monday, 28 November 2016.

Ketika saya pertama kali dibelikan motor oleh almarhum ayahanda tercinta, senangnya bukan main. Langsung belajar tancap gas .. byyuuurrr, masuk got!! Agak waswas jadinya. Namun beberapa minggu kemudian saya sudah ngebut bersama motor tersebut, ke sana sini dengan senangnya.

 

Sama juga ketika saya pertama kali punya mobil. Canggung dan waswas, terlebih setiap kali ada tanjakan. Siap-siap mundur. Atau saat mau parkir di tempat yang sempit, maju mundur ga keruan. But then beberapa saat kemudian mulai nyaman dan ke sana sini bersama dengan mobil tercinta, yang bersih dan sejuk, kelat kelit di tengah kemacetan sampai motor mepet banget di kiri kanan pun oke saja, santai.

 

Sama halnya juga ketika saya awal belajar coaching 2005. Bahkan sampai pertengahan 2006 ketika saya belajar coaching di San Fransisco, saya sampaikan ke guru saya (Jan Effline) bahwa saya tidak suka coaching dan tidak akan jadi coach. Hahaha .. lucu sekali kalau ingat itu. Jan hanya putar wajahnya melihat saya, tersenyum tidak membantah. Hati kecil saya rada protes merasa tidak didengar dan tidak dipercaya. Ternyata sayalah yang tidak mendengarkan saya sendiri. 

Why METAMIND?  read