Pelita

Written by Mariani Ng Posted in Mariani Ng on Monday, 21 October 2019.

Pelita

Tahun 2006, saat mengunjungi Grace Cathedral San Fransisco, saya ingin pasang lilin dan berdoa di gereja tersebut. Gereja-gereja Katolik pada umumnya memiliki ruang untuk pasang lilin dan berdoa. Gereja ini menempatkan tempat berdoa ini di pojok kanan dekat pintu masuk. Tempat pasang lilin untuk berdoa di sini adalah berupa gelas-gelas kaca dengan minyak di dalamnya, dimana mengapung gabus tipis dan sumbu yg diikatkan ke gabus tipis tersebut. Gelas-gelas ini sudah ada di tempat yg disusun berjenjang, bertingkat sedemikian rupa hingga hanya ada satu gelas di tempat teratas dan satu di tempat terbawah.

 

Saat itu, maksud hati ingin pasang di tempat tertinggi, biar pelita saya terang benderang. Namun apa daya gelas di tempat tertinggi sudah menyala, hanya tersisa tempat terbawah saja, di lekukan bawah yg sejajar dengan meja. Jadi gelas pelita terbawah ini akan tertutup oleh meja bila dilihat dari jauh. Tidak akan terlihat. Apa boleh buat, saya terpaksa menyalakan pelita di lekuk terbawah tersebut, satu-satunya yang tersisa. Berdoa dan kemudian jalan keliling ruang gereja.

 

Gereja ini bangunan kuno tinggi, dimana ada aula besar tinggi utk misa di tengah dengan altar di ujungnya, dipisahkan oleh pilar-pilar besar dengan koridor panjang di sisi kiri dan kanan. Tempat pelita tadi ada di ujung sisi kanan dekat pintu masuk. Setelah berdoa, saya mulai berjalan keliling mulai dari sisi kiri di sebrang, menikmati relief dan lukisan yg terdapat di tembok sisi kiri tersebut. Lalu berbelok kanan menuju altar, menikmati altar sejenak dan kemudian belok kanan lagi akan berjalan di koridor kanan. Saat saya siap berjalan, mata saya terantuk pada cahaya terang di ujung sana.. tempat pelita-pelita tadi.

Tempat itu menjadi terang, termasuk tembok kokoh di sisinya.

 

Saya diam terkesima. Pelita yang teratas sudah padam. Tapi dinding gelas tetap terang. Terang dari pantulan gelas di bawahnya. Saya telusuri lagi, ada beberapa pelita di tingkat dibawahnya ini juga sudah padam, tapi dinding gelasnya juga masih terang. Dan saya-pun telusuri bagaimana bisa terang, ternyata pantulan dari gelas satu sama lain. Dan terutama, dari bawah. Pantulan cahaya selalu ke segala arah. Gelas-gelas pelita di beberapa tingkat tengah menjadi terang utuh karena cahaya pelita di tingkat bawahnya menerangi dasar gelas tersebut, lalu memantul ke gelas pelita di samping kiri dan kanan, dan memantul kembali ke dinding gelasnya sendiri. Pojok ruangan menjadi terang oleh pantul memantulkan ini. Zona pojok ini menjadi terang bukan oleh pelita teratas, tapi terutama oleh pelita di tempat terbawah tadi, yang sepertinya tidak terlihat tapi justru menjadi sumber terang.

 

Saat itu juga saya merasa takjub dan bersyukur, agak merinding dengan pencerahan ini.

 

Bila mau terang sendiri, beradalah di tempat teratas. Tapi kalau mau terang bersama, mau berbagi terang dengan orang lain, bersedialah ada di bawah.

 

Pertanyaannya, how low can you go?

Seberapa rendah hati kita bersedia untuk berada di bawah?

Bersedia untuk mem-positioning-kan diri sebagai orang biasa dan bukan 'ter' atas segalanya?

 

Jakarta, 20 Oktober 2019

Mariani

METAMIND - Meta Coach

About the Author

Mariani Ng

Mariani Ng

She is a Founder of PT. METAMIND Tata Cendekia and the first woman in ASIA who is certified and licensed trainer of  NLP – NS trainings to provide International Certification of Meta-NLP Practitioner, International Certification of Master Practitioner.

Click here for detail

Why METAMIND?  read