Our Articles

Jargon-jargon NS NLP

Written by Mariani Ng Posted in Mariani Ng on Tuesday, 12 July 2016.

Jargon-jargon NS NLP

Banyak yang bertanya mengapa saya tertarik dengan NLP dan Neuro-Semantics.

Saya pernah bekerja di suatu perusahaan industri swasta nasional selama belasan tahun, mengurusi dari A sampai Z, berinteraksi dengan banyak orang baik internal maupun eksternal. Hal yang paling tidak bisa saya terima adalah ketika ada personal yang saya rekrut tapi kemudian saya juga yang memecatnya atas permintaan direksi, padahal sebenarnya personal tersebut memiliki potensi yang cukup baik – bila mau dikembangkan. Banyak personal yang dihalangi oleh mental blocking-nya sendiri.

 

Setelah itu saya pindah bekerja di perusahaan lain, hanya sebentar karena budaya senior – yunior. Lagi-lagi, kemampuan para personal tidak bisa berkembang secara optimal. Bedanya, kali ini mereka terhalang oleh birokrasi manajerial.

Faktor utama yang mempengaruhi seluruh interaksi personal adalah komunikasi, baik intra maupun interpersonal.

Pertama kali berkenalan dengan NLP menunjukkan bahwa kata-kata yang diucapkan oleh seseorang memiliki dikotomi fungsi, sebagai proyeksi atas apa yang sedang dipikirkan/dirasakan dan akan mempengaruhi tindakan selanjutnya – baik terhadap diri sendiri maupun orang lain.

Lalu saya mulai berpikir, kenapa orang itu bisa berperasaan demikian ? Kenapa orang ini bisa tidak berpikiran demikian?

Minat saya semakin besar ketika menyadari bahwa NLP - NS sebenarnya banyak menjelaskan proses tumbuh kembang seseorang, mulai dari bayi hingga dewasa, mulai dari kerdipan mata hingga berperilaku, mulai dari cara menarik nafas hingga berucap. Wow!!

Banyak kemampuan yang tidak terkembang karena pengaruh internal personal bersangkutan. Pihak eksternal hanyalah pemicunya. Dan ironisnya, sering saya temui bahwa faktor-faktor internal ini terjadi tanpa disadari dan tertanam semenjak masih dalam kandungan!

Ingin dijelaskan?

Seorang bayi dilahirkan polos apa adanya. Benarkah demikian? Tidak, bayi terlahir dengan potensi yang berlimpah, dengan sifat-sifat herediter yang dibawa secara genetika. Apakah potensi dan sifat-sifat tersebut akan berkembang atau tidak sangat bergantung pada pola asuh yang diberikan.

Semenjak dalam kandungan, bayi sudah memiliki pendengaran dan perasaan/kinestesi yang sensitif. Belailah dengan penuh kasih sayang ketika bayi dalam kandungan. Bayi akan merasa tenang dan aman karena belaian lembut penuh kasih sayang dan kebahagiaan orangtuanya. Bayi dalam kandungan ini telah diberi ANCHOR berupa belaian, bahwa dunia ini penuh kasih sayang. 

Apa jadinya bila selama dalam kandungan hingga lahir seorang bayi hanya mendengar suara bertengkar dan hiruk pikuk kedua orangtuanya?

Teorinya adalah bahwa bayi yang ketika dalam kandungan sering dibelai-belai akan sering tersenyum bahagia. Apakah selalu demikian? He..he.. bayangkan saja ketika dia mulai melihat dengan jelas, ketika dia tersenyum pada semua orang tapi yang sering ditemui adalah justru wajah-wajah tegang dan serius. Di sini terjadi MODELLING. Bayi akan meniru wajah-wajah tegang nan serius yang banyak ditemui itu.

Hal ini juga berlaku vice versa. Bayi yang selama dalam kandungan dengan keadaan ibunya yang sangat sibuk belum tentu akan tumbuh sebagai anak pendiam dan kaku. Bila ia lahir mendapat perlakuan yang hangat dan penuh senyum, keadaan akan berbeda.

Apakah keadaan psikis ibu yang sedang hamil mempengaruhi janin bayi yang sedang dikandung?

Jelas. Dalam NLP ini disebut IMPRINT. Banyak remaja, bahkan orang-orang dewasa yang merasa tidak disayang padahal sebenarnya dia hidup penuh kasih sayang. Setelah ditelusuri, ternyata pernah ingin digugurkan oleh ibunya pada awal-awal masa kehamilan. Dan masih banyak lagi ……..

Salah seorang kenalanku adalah keluarga yang ramah, sabar dan baik hati. Berbeda dengan kakak dan ayah ibunya, putri mereka yang nomor dua (7 tahun) sangat keras kepala dan keras hati. Apa yang dikehendaki harus segera dituruti, bila ada yang tidak disukai maka dia akan langsung buang muka dan "ngeloyor" pergi sambil banting pintu. Ketika masih bayi, anak ini montok lucu, sering diledeki oleh sanak saudara dan teman-teman orangtuanya. Mukanya yang bulat “tembem” enak diledeki biar ngambek. Lucu, bukan? Ya, dan anak ini telah mengenal CONDITIONING semenjak bayi. Bertahan dengan keras (hati dan kepala) biar tidak menangis! Dia telah belajar menghadapi ‘dunia’ sekelilingnya yang sangat ‘menantang’.

Duhh! Sedemikian gawatkah setiap pola ucapan dan tingkah laku mempengaruhi seseorang? Jelas, tapi tidak perlu dikhawatirkan.

Ketika anda AWARE atas apa yang terjadi, secepat itu pula anda bisa merubahnya. PACE dan LEAD akan menuntun ke perubahan. Kalau perlu INTERRUPT dan SHIFTING, lalu beralih ke ALTERING. Tenang saja! 

Bagaimana bila tidak AWARE?
Setuju, karena memang kegiatan sehari-hari kita adalah HABITUATE, kebiasaan. Perlu adanya STATE MANAGEMENT SKILLS dalam rangka mengembangkan tingkat AWARENESS seseorang.

“It’s never too late to have a happy childhood”, kata R. Bandler.
Belum terlambat untuk merubahnya ketika dewasa.

Dalam NLP kita mengenal TIME-LINE.
“Until we’re free of past hurts, we will not be truly free for living in the Moment and creating a Bright Future”, tulis Michael Hall, Ph.D. dalam manual META-NLP Practitionernya.

“Change personal history”, salah satunya adalah untuk IMPRINT di atas tadi.
Hanya itu sajakah yang bisa dilakukan dengan NLP-Neuro Semantics?
Di atas adalah sekelumit cerita NS-NLP berikut jargon-jargonnya tentang perilaku sebagai stimulus – response atas seseorang di masa-masa awal pertumbuhan. Lebih jauh lagi, apa yang terjadi dalam proses berpikir anak-anak itu? Hingga dewasa?

Apa yang terjadi dalam proses berpikir kita?

About the Author

Mariani Ng

Mariani Ng

She is a Founder of PT. METAMIND Tata Cendekia and the first woman in ASIA who is certified and licensed trainer of  NLP – NS trainings to provide International Certification of Meta-NLP Practitioner, International Certification of Master Practitioner.

Click here for detail

Why METAMIND?  read